Rumus Matematika dalam Kehidupan



Di awal hari yang cerah dan penuh berkah pada hari Jum'at (11-09-2015), tiba-tiba handphone ku berdenting yang menandakan notifikasi adanya pesan masuk. Setelah dilihat ternyata ada pesan di salah satu grup WA. Kubaca dan kucermati tulisan dalam pesan tersebut yang sarat akan makna dan nasihat, yang sangat sayang apabila hanya menjadi konsumsi sendiri atau bahkan cuman disimpan saja. Untuk itu, perlu disebarluaskan sebagai media untuk saling mengingatkan dan saling mengikat tali silaturahim...


Matematika
1)      Mengapa PLUS dikali PLUS hasilnya PLUS?
2)      Mengapa MINUS dikali PLUS atau sebaliknya PLUS dikali MINUS hasilnya MINUS?
3)      Mengapa MINUS dikali MINUS hasilnya PLUS?

Hikmahnya adalah:
(+) PLUS = BENAR
(-) MINUS = SALAH

1)   Mengatakan BENAR terhadap sesuatu hal yang BENAR adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus :
+ (PLUS) x + (PLUS) = + (PLUS)

2)    Mengatakan BENAR thd sesuatu yang SALAH, atau sebaliknya mengatakan SALAH thd sesuatu yang BENAR adalah suatu tindakan yang SALAH.
Rumus matematikanya:
+ (PLUS) x – (MINUS) = - (MINUS)
– (MINUS) x + (PLUS) = - (MINUS)

3)   Mengatakan SALAH thd sesuatu yg SALAH adalah suatu tindakan yang BENAR.
Rumus matematikanya:
– (MINUS) x – (MINUS) = + (PLUS)

KISAH INSPIRATIF "SECANGKIR KOPI"

Rumah Pak Tua si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate.

Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk terakhir kalinya.


Pak Tua yang Bijak dengan Segenggam Garam

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. 

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…”, ujar Pak Tua itu. 

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. 

Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. 

Pak Tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. 


Belajar Arti Perjuangan dari Kepompong

Suatu ketika seorang anak sedang bermain dan menemukan kepompong kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah. Diambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil disana.

Anak itu tertegun mengamati lubang kecil tersebut karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu tampaklah kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha semampunya dan nampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil di ujung kempompongnya.

Melihat fenomena itu, si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting lalu mulai membuka badan kepompong dengan guntingnya agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.


La Tahzan : Yang Lalu Biar Berlalu

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam 'ruang' penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam 'penjara' pengacuhan selamanya. Atau, diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Saringan Tiga Kali

Jaman Yunani kuno, Dr. Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi. Seorang filsuf. 

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?" 

"Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali." 

"Saringan tiga kali?" tanya pria tersebut. 

"Betul," lanjut Dr. Socrates. 


La Tahzan : Jangan Latah

 
Yakni, jangan mudah mengenakan dan meniru-meniru ciri kepribadian umat lain. Karena, itu akan menjadi petaka yang tak mudah reda bagimu. Orang-orang yang lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya, kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa lain. Dan itulah yang disebut dengan latah, mengada-ada, berpura-pura, dan membunuh paksa bentuk dan wujud dirinya sendiri.

Sejak zaman Nabi Adam hingga makhluk terakhir ciptaan Allah, tak pernah ada dua orang yang sama persis rupanya. Maka, mengapa masih ada orang-orang yang memaksa diri untuk menyamakan perilaku dan kepribadiannya dengan bangsa lain?

Anda merupakan sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak ada seorang pun yang menyerupai Anda dalam catatan sejarah kehidupan ini. Belum pernah ada seorang pun yang diciptakan sama dengan Anda, dan tidak akan pernah ada orang yang akan serupa dengan Anda di kemudian hari.


Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah...


Dalam kehidupan ini semua telah diatur kejadiannya oleh Allah Subhanahu wata'ala. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang terjadi diluar penguasaan Allah azza wa jalla, karena Allah Sang Maha Penguasa, Rabbul 'alamiin. Opick dalam sebuah lagunya menyebutkan bahwa "daun yang jatuh, hujan yang turun, setiap musibah dan kematian telah dituliskan"

Begitu juga halnya dalam kehidupan kita, terkadang kita mendapatkan apa yang kita inginkan, namun tidak jarang juga kita mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak kita inginkan. Sebagaimana kata pepatah orang bijak bahwa kehidupan selalu berputar laksana roda, terkadang kita diatas dan terkadang kita di bawah. Bagi orang yang beriman tentunya dalam posisi apapun ia akan tetap bersabar dan ber-husnudhon kepada Allah. Berprasangka baik kepada Allah dapat menjadi tiket bagi kita untuk mendapatkan kasih sayang dan ampunan dari Allah, karena Allah sesuai dengan persangkaan kita. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam....